" IKATAN SILATURAHMI BAHAGIA DUA, KREO SELATAN "

Selasa, 01 September 2015

6 Keutamaan Ibadah Haji

Tawaf di Ka'bah
 Sudah kita ketahui bersama bahwa haji adalah ibadah yang amat mulia. Ibadah tersebut adalah bagian dari rukun Islam bagi orang yang mampu menunaikannya. Keutamaan haji banyak disebutkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Berikut beberapa di antaranya:

Pertama: Haji merupakan amalan yang paling afdhol.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1519)

Kedua: Jika ibadah haji tidak bercampur dengan dosa (syirik dan maksiat), maka balasannya adalah surga

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349). An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud, ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’, bahwasanya haji mabrur tidak cukup jika pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan ia memang pantas untuk masuk surga.” (Syarh Shahih Muslim, 9/119)

Ketiga: Haji termasuk jihad fii sabilillah (jihad di jalan Allah)

Dari ‘Aisyah—ummul Mukminin—radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »
“Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1520)

Keempat: Haji akan menghapuskan kesalahaan dan dosa-dosa

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521).

Kelima: Haji akan menghilangkan kefakiran dan dosa.

Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih)

Keenam: Orang yang berhaji adalah tamu Allah

Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ
“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri” (HR. Ibnu Majah no 2893. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Begitu luar biasa pahala dari berhaji. Semoga kita pun termasuk orang-orang yang dimudahkan oleh Allah untuk menjadi tamu-Nya di rumah-Nya. Semoga kita dapat mempersiapkan ibadah tersebut dengan kematangan, fisik yang kuat, dan rizki yang halal.
Semoga Allah mengaruniakan kita haji yang mabrur yang tidak ada balasan selain surga.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

Referensi: Ar Rofiq fii Rihlatil Hajj, Majalah Al Bayan, terbitan 1429 H
Redaksi ISBAD

Kapan Sebenarnya Kiamat?

kiamat
Ilustrasi Gambar

Pada awal tahun 2012, kita cukup digemparkan dengan berita tentang akan datangnya hari kiamat pada tahun tersebut. Sebagian besar orang, termasuk juga umat muslim di antaranya, banyak yang mempercayai tentang berita ini. Padahal sudah sangat jelas Allah SWT sampaikan bahwa Kiamat adalah perkara yang hanya Allah SWT yang mengetahuinya.

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا
“Manusia bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat. Katakanlah, ‘Ilmu tentang Hari kiamat itu hanya di sisi Allah.’ Dan tahukah engkau, boleh jadi Hari Kiamat itu sudah dekat waktunya,”(QS. Al-Ahzab: 63).

Orang-orang kafir sering bertanya tentang Kiamat. Pertanyaan mereka bisa jadi untuk menguji, atau untuk memperolok-olok Nabi, Allah SWT menegaskan bahwa pengetahuan tentang kapan akan terjadinya Hari Kiamat hanya milik Allah SWT.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Kunci-kunci kegaiban (mafaatiihul ghaib) ada lima. Selain Allah SWT tidak ada yang mengetahuinya: seseorang tidak mengetahui kapan Kiamat akan terjadi; seseorang tidak mengetahui kapan akan turun hujan; seseorang tidak mengetahui apa yang ada dalam rahim; seseorang tidak mengetahui apa yang akan dia perbuat esok; seseorang tidak mengetahui di mana dia akan meninggal,”(HR. Al-Bukhari).

Dalam surah al-Ahzab ayat 63 di atas, Allah SWT tidak memastikan bahwa Kiamat itu masih lama, tidak juga menegaskan bahwa Kiamat akan terjadi dalam waktu dekat.

Sekelompok yang mengatakan bahwa “Kiamat” akan terjadi tahun 2012 M, dengan beberapa alasan:
• Kalender bangsa Maya dimulai pada 3113 SM dan berakhir tanggal 21 Desember 2012 M
• Beberapa perkiraan bangsa Maya tentang fenomena astronomik terbukti benar dan benar-benar terjadi.
• Kesejajaran posisi tata surya pada bidang galaksi. Posisi matahari sejajar pada bidang galaksi Bimasakti dimulai tahun 1998 sampai 2016. Kesejajaran seperti ini berlangsung sekali setiap 25.800 tahun.
• Saat ini sedang terjadi pergeseran medan magnet bumi. Para ilmuwan percaya, pergeseran seperti ini pernah terjadi selama ratusan ribu tahun lalu dan setiap pergeseran berlangsung sekitar 100 tahun. Pergeseran berikutnya kini telah dimulai dan berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan (awalnya diperkirakan, pergeseran seperti ini baru akan terjadi awal abad ke-24 M).
• Kitab suci beberapa agama menyebutkan bahwa kiamat sudah dekat, meski tidak menyebutkan tanggal pastinya.
• Asteroid raksasa yang dinamai 433 Eros akan melintasi bumi pada 31 Januari 2012.
• “The Bible Code”, buku laris yang yang diterbitkan pada tahun 1998 yang menjelaskan kode-kode rahasia dalam Injil, memprediksi tahun 2012 merupakan akhir dunia.
• Beberapa ramalan Nostradamus mendukung perkiraan bahwa 2012 adalah Hari Kimat.

Semua itu adalah delapan alasan orang-orang yang berpendapat bahwa Kiamat akan terjadi pada tahun 2012.

Sementara dalam islam, sebagaimana ditegaskan dalam banyak ayat dan hadits nabi SAW, pengetahuan tentang kapan waktu pasti terjadinya Kiamat hanya milik Allah SWT. Akan tetapi, Rasulullah SAW dalam beberapa hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari menjelaskan beberapa tanda akan terjadinya kiamat: diangkatnya ilmu; kebodohan merajalela; khamr jadi minuman; zina dilakukan secara terang-terangan. Dalam hadits lain yang juga diriwayatkan oleh al-Bukhari terdapat tambahan: jumlah wanita lebih banyak dari pria hingga 50 banding 1; seorang pembantu melahirkan tuannya (ibu menjadi pembantu di rumah anaknya sendiri). Dalam hadits lain menyebutkan : tanda pertama kiamat adalah, munculnya api yang memaksa manusia bergerak dari wilayah timur untuk berkumpul di wilayah barat.

Hanya Allah yang mengetahui kapan waktu pasti terjadinya kiamat. Manusia hanya bisa mengira berdasarkan kemampuan yang mereka miliki dan indikator-indikator yang disampaikan oleh Nabi SAW. Bila perkiraan itu hanya didasarkan pada ramalan-ramalan mistik, tentu itu merupakan salah satu bentuk kebodohan yang menjadi tanda akan terjadinya kiamat itu sendiri; menetapkan kapan waktu pasti terjadinya kiamat juga merupakan bentuk kekufuran, karena mengambil alih ranah pengetahuan yang sebenarnya hanya milik Allah.

Di sisi lain, perlu juga mempertimbangkan indikator-indikator akan terjadinya kiamat yang disampaikan Rasulullah SAW dalam sabda-sabdanya. Apakah ada dari tanda-tanda itu yang telah menjadi fenomena umum dalam tradisi dan budaya masyarakat dunia saat ini? Jika ada, siapa yang bisa memastikan bahwa kiamat tidak terjadi pada tahun 2012?

Rasulullah SAW sendiri, seorang Nabiyullah yang selalu ditemani oleh malaikat Jibril, tidak berani, menetapkan kapan pastinya kiamat akan terjadi. Ketika seorang Badui datang kepada beliau seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan Kiamat?”

Rasulullah balik bertanya, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”

Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak punya persiapan apa-apa kecuali rasa cinta yang besar kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Rasulullah kemudian bersabda, “Engkau bersama siapa yang engkau cintai,”(HR. Al-Bukhari).

Nah, Rasul saja tidak berani menjawab kapan kiamat akan tiba, karena memang beliau tidak mengetahui kepastiannya. Terus sekarang moso kita harus percaya sama orang yang bilang kiamat tahun 2012?


Sumber: 
Kerajaan Al-Qur’an/Hudzaifah Ismail/Penerbit: Penerbit Almahira/2012
mila/islampos
Redaksi ISBAD 

Orang-orang Pilihan yang Tersembunyi.


orang shalat ramadhan
Ilustrasi Foto

Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allâh Yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi mencintai di antara makhluk-Nya orang-orang pilihan, tersembunyi, taat, rambut mereka acak-acakan, wajah mereka berdebu dan perut mereka kelaparan. Jika meminta izin kepada pemimpin ditolak. Jika melamar wanita cantik tidak diterima. Jika mereka tak hadir tak ada yang kehilangan dan jika hadir tak ada yang merasa bahagia atas kehadirannya. Jika sakit tak ada yang mengunjunginya dan jika mati tak ada yang menyaksikan jenazahnya.”

Para sahabat bertanya: “Wahai Rasûlullâh, contohkan pada kami salah satu dari mereka?”

Beliau menjawab: “Itulah Uwais Al-Qaraniy.”

Para sahabat bertanya kembali: “Seperti apakah Uwais Al-Qaraniy? “

Beliau menjawab: “Matanya berwarna hitam kebiru-biruan, rambutnya pirang, pundaknya luas, postur tubuhnya sedang, warna kulitnya kemerah-merahan, selalu menundukkan dagunya hingga ke dada, pandangannya tertuju pada tempat sujud, selalu meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri, menangisi dirinya, bajunya compang-camping tak punya baju lain, memakai sarung dan selendang dari bulu domba, tidak dikenal di bumi namun dikenal oleh penduduk langit, jika bersumpah atas nama Allâh pasti akan dikabulkan. Sesungguhnya di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Sesungguhnya kelak di hari kiamat, diserukan pada sekelompok hamba, “Masukklah ke dalam surga!”

Dan diserukan kepada Uwais, “Berhenti, dan berikanlah syafaat!” Maka Allâh memberikan syafaat sebanyak kabilah Rabi’ah dan Mudhar.” “Wahai Umar, wahai `Ali!” Jika kalian berdua menemuinya, mintalah padanya agar memohonkan ampun bagi kalian berdua, niscaya Allâh akan mengampuni kalian berdua.”

Maka mereka berdua mencarinya selama sepuluh tahun tetapi tidak berhasil.

Ketika di akhir tahun sebelum wafatnya, Umar Radhiallahu anhu berdiri di gunung Abu Qubais, lalu berseru dengan suara lantang:” Wahai penduduk Yaman, adakah di antara kalian yang bernama Uwais?”

Bangkitlah seorang tua yang berjenggot panjang, lalu berkata: “Kami tidak tahu Uwais yang dimaksud. Kemenakanku ada yang bernama Uwais, tetapi ia jarang disebut-sebut, sedikit harta, dan sesuatu yang paling hina untuk kami ajukan kehadapanmu. Sesungguhnya ia hanyalah penggembala unta-unta kami, dan orang yang sangat rendah di antara kami. Demi Allâh tak ada orang yang lebih bodoh, lebih gila, dan lebih kelaparan darinya”.

Maka, menangislah Umar Radhiallahu anhu, lalu beliau berkata: Hal itu ada padamu, bukan padanya. Aku mendengar Rasûlullâh SAW bersabda: “Kelak akan masuk surga melalui syafaatnya sebanyak kabilah Rabi`ah dan Mudhar.”

Maka Umar pun memalingkan pandangan matanya seakan-akan tidak membutuhkannya, dan berkata: “Dimanakah kemenakanmu itu!? Apakah ia ada di tanah haram ini?”

“Ya,” jawabnya.

Beliau bertanya: ” Dimanakah tempatnya”

Ia menjawab: “Di tanah Arafah.”

Kemudian berangkatlah Umar dan Ali Radhiallahu anhu dengan cepat menungganggi kendaraannya menuju Arafah. Tiba-tiba mereka mendapatkannya dalam keadaan shalat di dekat pohon dan unta yang digembalakannya disekitarnya.

Keduanya mengikat keledai mereka, lalu mendatanginya, dan berkata: “Assalamualaika warrahmatullah wabarokatuh”. Uwais mempercepat shalatnya dan menjawab salam mereka.

Mereka berdua bertanya: “Siapa engkau?”

Ia menjawab: “Penggembala unta dan buruh suatu kaum”.

Mereka berdua berkata: “Kami tidak bertanya kepadamu tentang gembala dan buruh, tetapi siapakah namamu?”

Ia menjawab: “Abdullâh (hamba Allah)”.

Mereka berdua berkata: “Kami sudah tahu bahwa seluruh penduduk langit dan bumi adalah hamba Allâh, tetapi siapakah nama yang diberikan oleh ibumu?”

Ia menjawab: “Wahai kalian berdua, apakah yang kalian inginkan dariku?”
Mereka berdua menjawab: “Nabi SAW menyifatkan kepada kami seseorang yang bernama Uwais Alqaraniy. Kami sudah mengetahui akan rambut yang pirang dan mata yang berwarna hitam kebiru-biruan.Beliau SAW memberitahukan kepada kami bahwa di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Tunjukkanlah pada kami, kalau itu memang ada padamu, maka kaulah orangnya”.

Maka ia menunjukkan kepada mereka berdua pundaknya yang ternyata terdapat belang putih itu. Mereka berdua segera menghampirinya dan mengecupnya seraya berkata: “Kami bersaksi bahwasannya engkau adalah Uwais Alqaraniy, mintakanlah ampunan untuk kami, semoga Allâh mengampunimu”.

Ia menjawab: “Aku tidak pernah mengkhususkan istighfarku untuk diriku atau siapapun dari anak cucu Adam, tetapi doaku untuk mereka yang ada di daratan dan lautan, baik laki-laki maupun wanita yang beriman dan Islam. Wahai kalian berdua, Allâh telah membongkar dan memberitahukan keadaaanku pada kalian berdua, lalu siapakah kalian berdua?” Berkatalah `Ali Radhiallahu anhu: “Ini adalah Umar amir al-mu’minin, sedangkan aku adalah `Ali bin Abu Thalib”.

Lalu Uwais bangkit dan berkata: “Kesejahteraan, rahmat dan keberkahan Allâh bagimu wahai amir al-mu’minin, dan kepadamu pula wahai anak Abu Thalib, semoga Allâh membalas jasa kalian berdua atas umat ini dengan kebaikan”.

Lalu keduanya berkata: “Begitu juga engkau, semoga Allâh membalas jasamu dengan kebaikan atas dirimu”.

Lalu Umar ra berkata kepadanya :” Tetaplah di tempatmu hingga aku memasuki kota Mekah dan aku akan membawakan untukmu bekal dari pemberianku dan penutup tubuh dari pakaianku, ini adalah tempat pertemuanku denganmu”.

Ia berkata: “Tidak ada lagi pertemuan antara aku denganmu wahai amir al-mu’minin. Aku tidak akan melihatmu setelah hari ini.

Apakah kau mengetahui apa yang akan aku perbuat dengan bekal dan baju darimu? Bukankah kau melihat dua lembar pakaianku yang terbuat dari kulit domba? Kapan kau melihatku merusakkannya ! Bukankah kau mengetahui bahwa aku mendapatkan bayaran sebanyak empat dirham dari hasil gembalaku? Kapankah kau melihatku menghabiskannya? Wahai amir al-mu’minin, sesungguhnya dihadapanku dan dihadapanmu terdapat bukit terjal dan tidak ada yang bisa melewatinya kecuali setiap hati yang memiliki rasa takut dan tunduk, maka takutlah semoga Allâh merahmatimu”.

Ketika Umar mendengar semua itu, ia menghentakkan cambuknya di atas tanah. Kemudian ia menyeru dengan suara lantang: “Andai Umar tak dilahirkan oleh ibunya! Andai ibuku mandul tak dapat hamil! Wahai siapa yang ingin mengambil tampuk kekhilafahan ini?”

Kemudian Uwais berkata: “Wahai amir al-mu’minin, ambillah arahmu lewat sini, hingga aku bisa mengambil arah yang lain”.

Maka Umar berjalan ke arah Mekkah, sedangkan Uwais menggiring unta-untanya dan mengembalikan kepada kaumnya. Lalu ia meninggalkan pekerjaan sebagai penggembala dan menghadapkan dirinya beribadah hingga menemui Allâh.

[irma/islampos]

Umar Bin Abdul Azis, Kehebatannya Didoakan Umar Bin Khattab

sahara-desert
Umar bin Abdul-Aziz bergelar Umar II, lahir pada tahun 63 H / 682 – Februari 720; umur 37–38 tahun) adalah khalifah Bani Umayyah yang berkuasa dari tahun 717 (umur 34–35 tahun) sampai 720 (selama 2–3 tahun). Tidak seperti khalifah Bani Umayyah sebelumnya, ia bukan merupakan keturunan dari khalifah sebelumnya, tetapi ditunjuk langsung, dimana ia merupakan sepupu dari khalifah sebelumnya, Sulaiman.

Ayahnya adalah Abdul-Aziz bin Marwan, gubernur Mesir dan adik dari Khalifah Abdul-Malik. Ibunya adalah Ummu Asim binti Asim. Umar adalah cicit dari Khulafaur Rasyidin kedua Umar bin Khattab, dimana umat Muslim menghormatinya sebagai salah seorang Sahabat Nabi yang paling dekat.

Silsilah
Umar dilahirkan sekitar tahun 682. Beberapa tradisi menyatakan ia dilahirkan di Madinah, sedangkan lainnya mengklaim ia lahir di Mesir. Umar dibesarkan di Madinah, di bawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak.

Kisah Umar bin Khattab berkaitan dengan kelahiran Umar II

Menurut banyak referensi, silsilah keturunan Umar dengan Umar bin Khattab terkait dengan sebuah peristiwa terkenal yang terjadi pada masa kekuasaan Umar bin Khattab.

Khalifah Umar sangat terkenal dengan kegiatannya beronda pada malam hari di sekitar daerah kekuasaannya.

Pada suatu malam beliau mendengar dialog seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin.

Kata ibunya, “Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari.”

Anaknya menjawab, “Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Mukminin melarang kita berbuat begini.”

Si ibu masih mendesak, “Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu.”

Balas si anak, “Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhannya Amirul Mukminin tahu.”

Umar yang mendengar kemudian menangis. Betapa mulianya hati anak gadis itu.

Ketika pulang ke rumah, Umar bin Khattab menyuruh anak lelakinya, Asim menikahi gadis itu.

Kata Umar, “Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat kelak yang akan memimpin orang-orang Arab dan Ajam.”

Asim yang taat tanpa banyak tanya segera menikahi gadis miskin tersebut.

Pernikahan ini melahirkan anak perempuan bernama Laila yang lebih dikenal dengan sebutan Ummu Asim. Ketika dewasa Ummu Asim menikah dengan Abdul-Aziz bin Marwan yang melahirkan Umar bin Abdul-Aziz.

Kehidupan awal

Umar dibesarkan di Madinah, di bawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak. Ia tinggal di sana sampai kematiannya ayahnya, dimana kemudian ia dipanggil ke Damaskus oleh Abdul-Malik dan menikah dengan anak perempuannya Fatimah. Ayah mertuanya kemudian segera meninggal dan ia diangkat pada tahun 706 sebagai gubernur Madinah oleh khalifah Al-Walid I.

Tidak seperti sebagaian besar penguasa pada saat itu, Umar membentuk sebuah dewan yang kemudian bersama-sama dengannya menjalankan pemerintahan provinsi. Masa di Madinah itu menjadi masa yang jauh berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, dimana keluhan-keluhan resmi ke Damaskus berkurang dan dapat diselesaikan di Madinah, sebagai tambahan banyak orang yang berimigrasi ke Madinah dari Iraq, mencari perlindungan dari gubernur mereka yang kejam, Al-Hajjaj bin Yusuf. Hal tersebut menyebabkan kemarahan Al-Hajjaj, dan ia menekan al-Walid I untuk memberhentikan Umar. al-Walid I tunduk kepada tekanan Al-Hajjaj dan memberhentikan Umar dari jabatannya. Tetapi sejak itu, Umar sudah memiliki reputasi yang tinggi di Kekhalifahan Islam pada masa itu.

Pada era Al-Walid I ini juga tercatat tentang keputusan khalifah yang kontroversial untuk memperluas area di sekitar masjid Nabawi sehingga rumah Rasulullah ikut direnovasi. Umar membacakan keputusan ini di depan penduduk Madinah termasuk ulama mereka, Said Al Musayyib sehingga banyak dari mereka yang mencucurkan air mata. Berkata Said Al Musayyib: “Sungguh aku berharap agar rumah Rasulullah tetap dibiarkan seperti apa adanya sehingga generasi Islam yang akan datang dapat mengetahui bagaimana sesungguhnya tata cara hidup beliau yang sederhana.”

715 – 717: era Sulaiman

Umar tetap tinggal di Madinah selama masa sisa pemerintahan al-Walid I dan kemudian dilanjutkan oleh saudara al-Walid, Sulaiman. Sulaiman, yang juga merupakan sepupu Umar selalu mengagumi Umar, dan menolak untuk menunjuk saudara kandung dan anaknya sendiri pada saat pemilihan khalifah dan menunjuk Umar.

Kedekatan Umar dengan Sulaiman

Sulaiman bin Abdul-Malik merupakan sepupu langsung dengan Umar. Mereka berdua sangat erat dan selalu bersama. Pada masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul-Malik, dunia dinaungi pemerintahan Islam. Kekuasaan Bani Umayyah sangat kukuh dan stabil.
 
Suatu hari, Sulaiman mengajak Umar ke markas pasukan Bani Umayyah.

Sulaiman bertanya kepada Umar “Apakah yang kau lihat wahai Umar bin Abdul-Aziz?” dengan niat agar dapat membakar semangat Umar ketika melihat kekuatan pasukan yang telah dilatih.

Namun jawab Umar, “Aku sedang lihat dunia itu sedang makan antara satu dengan yang lain, dan engkau adalah orang yang paling bertanggung jawab dan akan ditanyakan oleh Allah mengenainya”.

Khalifah Sulaiman berkata lagi “Engkau tidak kagumkah dengan kehebatan pemerintahan kita ini?”

Balas Umar lagi, “Bahkan yang paling hebat dan mengagumkan adalah orang yang mengenali Allah kemudian mendurhakai-Nya, mengenali setan kemudian mengikutinya, mengenali dunia kemudian condong kepada dunia”.

Jika Khalifah Sulaiman adalah pemimpin biasa, sudah barang tentu akan marah dengan kata-kata Umar bin Abdul-Aziz, namun beliau menerima dengan hati terbuka bahkan kagum dengan kata-kata itu.

Sumber : islampos/Wikipedia

Ketika Buya Hamka Mengimami Sholat Shubuh di Kediaman KH Abdullah Syafi’ie

buya hamka-abdullah syafi'i_islampos
KH Abdullah syafi’ie & Buya Hamka
Ulama-ulama besar yang sudah menorehkan begitu banyak amal sholeh tak akan pernah mati walaupun jasadnya sudah dikubur oleh tanah. Itulah yang selalu kita dapatkan dari sosok Buya Hamka dan KH Abdullah syafi’ie.

Siapa yang tidak kenal Buya Hamka, dengan perguruan Al-Azhar dan tafsirnya yang fenomenal? Dan siapa tidak kenal KH Abdullah Syafi’ie, pendiri dan pemimpin Perguruan Asy-Syafiiyah, yang umumnya kiyai Betawi pada hari ini adalah murid-murid beliau?

Meski Buya Hamka adalah tokoh Muhammadiyah, namun ia berkawan baik dengan tokoh NU seperti KH. Abdullah Syafi’ie, ulama kawakan yang juga dijuluki ‘Macan Betawi’ kharismatik.

Di antaranya kisah sederhana Buya Hamka dan KH. Abdullah Syafi’ie ialah toleransi dan lebih mengedepankan ukhuwah Islamiyah.

Kisah ini, sebagaimana yang diceritakan oleh putera beliau, Rusydi Hamka, adalah tentang persoalan khilafiyah seperti qunut, jumlah rakaat tarawih, maupun jumlah adzan shalat jum’at. Meski Buya Hamka boleh dibilang tokoh Muhammadiyah yang tidak mempraktikkan qunut pada shalat subuh, namun beliau menghormati sahabatnya, KH. Abdullah Syafi’ie, ulama yang menyatakan bahwa qunut shalat shubuh itu hukumnya sunnah muakkadah.

Buya Hamka jika hendak mengimami jamaah shalat subuh, suka bertanya kepada jamaah, apakah akan menggunakan qunut atau tidak. Dan ketika jamaah minta qunut, tokoh dan penasihat Muhammadiyah inipun mengimami shalat subuh dengan qunut.

Dalam kesempatan lain tentang masalah adzan dua kali. Suatu ketika di hari Jumat, KH. Abdullah Syafi’ie mengunjungi Buya di masjid Al-Azhar, Kebayoran Jakarta Selatan. Hari itu menurut jadwal seharusnya giliran Buya Hamka yang jadi khatib. Karena sahabatnya datang, maka Buya minta agar KH. Abdullah Syafi’ie saja yang naik menjadi khatib Jumat.

Yang menarik, tiba-tiba adzan Jumat dikumandangkan dua kali, padahal biasanya di masjid itu hanya satu kali adzan. Rupanya, Buya menghormati ulama betawi ini dan tahu bahwa adzan dua kali pada shalat Jumat itu adalah pendapat sahabatnya. Jadi bukan hanya mimbar Jumat yang diserahkan, bahkan adzan pun ditambahkan jadi dua kali, semata-mata karena ulama ini menghormati ulama lainnya.

Begitu pula tentang jumlah rakaat tarawih. Buya Hamka ketika mau mengimami shalat tarawih, menawarkan kepada jamaah, mau 23 rakaat atau mau 11 rakaat. Jamaah di masjid Al-Azhar pada saat itu memilih 23 rakaat, maka beliau pun mengimami shalat tarawih dengan 23 rakaat. Esoknya, jamaah minta 11 rakaat, maka beliau pun mengimami shalat dengan 11 rakaat.

Sumber : Islampos
               Redaksi ISBAD

Hamas: Kenapa Tak Ada Satupun Roket Hizbullah Ditembak ke Israel?

Hasan Nashrallah, Pemimpin Hizbullah
Hasan Nashrallah, Pemimpin Hizbullah
Pemberitaan Hamas meminta bantuan Hizbullah melawan Israel membuat petinggi Hamas angkat bicara. Muhammad Nazzal, wakil anggota Hamas di Lebanon, dengan tegas membantah pemberitaan itu.

Dia justru balik mempertanyakan klaim Hizbullah yang mengaku menjadikan Israel musuh utama. Namun tidak ada satu roketpun dilepaskan kelompok Syiah itu ke Israel.

“Kenapa sudah 25 hari perang berlangsung akan tetapi tidak satu roketpun kalian lontarkan ke Israel,” tegas Nazzal saat diwawancara wartawan Indonesia, Abdullah Onim, Kamis (31/7).

Nazzal menyayangkan banyak negara mengaku mujahid, mengatakan Israel sebagai musuh utama, akan tetapi saat Gaza dibombardir Israel, mereka masih tertidur lelap.

“Saya berstatemen begini, bukan berarti kami meminta tolong kepada Hizbullah dan Iran, tidak sama sekali. Biarlah kami (pejuang Islam Palestina) yang berperang melawan Zionis Israel, karena ini wajib hukumnya untuk kami membela tanah Palestina,” tandas Nazzal.

Meski agresi Israel sudah memasuki hari ke-25 pada Kamis (31/7). Namun Hamas sejauh ini baru mengerahkan 10 persen kekuatannya, sementara Israel sudah habis-habisan mengeluarkan 90 persen kemampuannya.

”Kekuatan dan perlengkapan yang kami miliki saat ini masih bisa bertahan walau perang berlangsung hingga bertahun-tahun,” kata tambah Nazzal.

Nazzal mengatakan semua persenjataan yang Hamas miliki saat ini mayoritasnya mereka produksi di wilayah Gaza.

”Kami pelajari kecanggihan dari negara lain dan kami kembangkan di Gaza persenjataan tersebut,” katanya. ”Ada persenjataan yang kami miliki berasal dari luar. Tetapi kami membelinya, bukan bantuan cuma-cuma,” tambahnya.

Sumber : Islampos

Aisyah pun Takut pada Umar

unta padang pasir
Ilustrasi Foto

Ketika Aisyah sedang berbincang-bincang dengan seorang perempuan di rumahnya, tiba-tiba Rasulullah masuk ke dalam rumah. Saat itu Aisyah masih saja meneruskan perbincangannya dengan perempuan tersebut. Beberapa saat kemudian Umar bin Khattab juga masuk.

Begitu Umar memasuki rumah, Aisyah langsung terdiam menghentikan bicaranya dan duduk dengan tenang. Melihat perilaku Aisyah yang mendadak terdiam begitu melihat Umar, maka Rasulullah pun tertawa geli.

Karena penasaran, Umar pun bertanya”Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu tertawa?”

Rasulullah bukannya langsung menjelaskan alasan tertawanya kepada Umar, beliau malah mengajak Umar keluar dan berbicara tentang hal lain.

Umar pun berkata, “Demi Allah, aku tidak akan pergi hingga aku mendengar Rasulullah mengatakan alasannya kepadaku.”

Rasulullah pun lalu memerintahkan Aisyah untuk mengatakan alasannya. Dan Aisyah pun menjelaskan alasannya kepada Umar, bahwa diam-diam dia selalu gugup dan ketakutan setiap kali berhadapan dengan sosok Umar.

Kenapa Aisyah sampai gugup dan ketakutan dengan sosok Umar bin Khattab?

Suatu hari Aisyah menghidangkan daging kelinci yang telah dimasak secara khusus untuk Rasulullah. Kemudian Aisyah berkata kepada Saudah (sedang Rasulullah waktu itu sedang berada di tengah-tengah kedua istrinya ini). “Wahai Saudah, makanlah daging ini.”

Saudah enggan memakannya.

“Kamu mau makan atau aku akan melumurkan makanan ini ke mukamu?” kata Aisyah agak mengancam.

Saudah tetap diam dan enggan untuk makan.

Maka Aisyah meletakkan tangannya pada daging kelinci yang telah masak tersebut, lalu melumurkannya pada wajah Saudah.

Rasulullah pun tersenyum melihat tingkah Aisyah sembari mengusapkan tangannya ke wajah Saudah.”Sekarang lumurilah wajah Aisyah.”

Saudah pun melakukannya. Lalu beliau tertawa lagi.

Dalam keadaan demikian, tiba-tiba terdengar suara Umar bin Khattab “Wahai Abdullah… Wahai Abdullah…”

Mendengar suara Umar ini, Rasulullah mengira Umar akan masuk ke dalam rumah sehingga cepat-cepat beliau berkata kepada kedua istrinya, “Berdiri dan basuhlah wajah kalian berdua.”

Sejak kejadian itu, Aisyah merasa takut kepada Umar. Karena Rasulullah sendiri pun segan kepadanya.

Sumber : 
Kumpulan Humor ala Nabi Muhammad, Penulis: Abu Islam Ahmad bin Ali