" IKATAN SILATURAHMI BAHAGIA DUA, KREO SELATAN "

Senin, 24 Agustus 2015

Menjadi INDONESIA

Dokumentasi peringatan HUT NKRI yang ke-70 bersama pemuda-pemudi ISBAD...
MERDEKA... BERANI HIJRAH....

created by : hamba ALLAH

Minggu, 23 Agustus 2015

Kematian, Perpisahan atau Musibah?


Ilustrasi Foto
Setiap manusia pasti akan menghadapi kematian. Namun, tempat dan waktu kita akan mati, itu tak pernah kita ketahui. Sehingga, kita harus senantiasa mempersiapkan diri untuk mengahadapi sesuatu yang sudah pasti akan terjadi itu.

Ada yang mengatakan bahwa kematian itu merupakan suatu perpisahan. Namun, ada pula yang mengatakan hal itu sebagai musibah. Manakah yang benar?

Kematian pada lahirnya adalah kehilangan jiwa. Tidak ada kematian kecuali sesudah adanya kehidupan. Adakalanya kematian datang mendadak tanpa didahului gangguan fisik. Misalnya, seorang yang sedang duduk-duduk bersama kawan-kawannya, tiba-tiba dia mati tanpa dipukul atau diganggu tubuhnya oleh orang lain. Inilah yang disebut kematian.

Sedangkan bila kematian itu disebabkan karena tubuhnya diganggu (disakiti), itu yang dinamakan pembunuhan. Di dalam al-Quran, keduanya dipisahkan.

Allah SWT berfirman, “Muhammad itu hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlaku sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jiwa dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad),” (QS. Ali Imran: 144).

Bagi orang yang beriman, kehidupan di dunia ini bukanlah tujuan akhir atau kekal. Karena sebelum manusia menjalani kehidupan, mereka telah diberi pengertian dan kesadaran tentang kematian.

Seperti halnya dalam firman Allah SWT, “Mahasuci Allah yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya,” (QS. Al-Mulk: 1-2).

Jadi, Allah telah menerangkan soal kematian sebelum kehidupan. Selama kita menyadari bahwa kematian itu merupakan tujuan hidup, sulit dikatakan perpisahan.

Selama yang mati itu orang yang kita sayangi, kitalah yang berpisah darinya, jadi perpisahan bukanlah suatu musibah. Kalau orang yang berpisah itu dapat berlaku sabar, dia akan memperoleh pahala. Bila tidak, lalu ia mengerjakan hal-hal yang dilarang agama, perbuatan itulah yang dinamakan musibah karena telah merugikan dirinya.

Sumber : Anda Bertanya Islam Menjawab/Karya: Prof. Dr. M. Mutawalli asy-Sya’rawi
                Islampos

               Redaksi ISBAD

Kepada Siapakah Shalat Diwajibkan?


Ilustrasi Foto
Shalat merupakan salah satu perintah Allah Swt yang harus kita kerjakan. Tentunya orang-orang yang mengaku dirinya Islam haruslah melakukan shalat. Namun yang jadi pertanyaan siapakah yang diwajibkan untuk shalat? Apakah semua orang termasuk bayi?

Shalat diwajibkan bagi setiap muslim dan muslimah yang sudah baligh. Hal ini didasarkan pada hadits Aisyah, di mana Nabi pernah berkata :

“Ada tiga kelompok yang terbebas dari hukum. Yaitu, orang yang tidur sehinggah bangun, anak-anak sehingga dewasa dan orang yang hilang ingatan sehingga sadar.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, at-Tirmidzi dan Al-Hakim)

Hadist ini shahih dengan syarat Imam al-Bukhari, Imam Muslim dan dishahihkan oleh Imam at-Tirmidzi.

Hadits ini tidak membenarkan shalatnya orang yang hilang ingat atau gila. Karena ia tidak memiliki kewajiban, sama seperti anak-anak yang belum baligh yang tidak wajib untuk mengqadha shalat yang ditinggalkan kecuali telah sembuh pada saat berada dalam suatu waktu shalat. Mengenai hal ini tidak adanya perbedaan pendapat di kalangan ulam.

Sumber : Fiqih Wanita Edisi Lengkap/zSyaikh Kamil Muhammad Uwaidah/Pustaka Al-Kautsar
                Redaksi ISBAD

Amalan Untuk Menolong Mayit

berdoa-1-268x300

Selama manusia hidup, ia diberi kesempatan untuk melakukan perbuatan baik dan amal-amal yang shaleh. Namun tak dapat dipungkiri setan berada dimana-mana dan selalu berusaha untuk membujuk manusia pada hal yang sesat. Dan bagi manusia yang tidak kuat agamanya maka pasti akan mudah terbujuk dengan rayuan setan yang terkutuk. Dan akhirnya setelah ia meninggal ia masuk ke dalam neraka Jahannam menemani setan disana. Oleh karena itu, untuk meringankan siksaan si mayit, sebagai yang masih hidup, kita bisa membantunya dengan melakukan amalan-amalan shaleh. Berikut akan dipaparkan penjelasannya menurut Ibnu Taimiyah, yaitu:

a. Do'a
Hal ini berdasarkan QS. Al-Hasyr: 10,
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.”

b. Melakukan tilawah Al-Qur’an

c. Shadaqah
Aisyah RA meriwayatkan, sesungguhnya laki-laki datang kepada Nabi SAW, kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal secara tiba-tiba, dan dia tidak berwasiat apapun, dan aku berprasangka kalau dia berwasiat maka dia akan bershodaqah. Apakah bagi ibuku mendapatkan pahala apabila aku bershodaqoh untuknya?” Nabi menjawab, ”Ya,” (HR. Muslim).

d. Haji
Abi Rozin al-‘Uqail RA meriwayatkan, bahwa beliau mendatangi Nabi SAW, kemudian bertanya, “Ya Rasullah sesungguhnya bapakku tua renta tidak mampu melakukan haji dan umrah serta tidak mampu bepergian,” Nabi bersabda, “Berhajilah untuk bapakmu dan umrahlah,” (HR. Turmudzi).

e. Puasa
Dari Ibnu Abbas RA berkata, datang seorang laki-laki kepada Nabi SAW kemudian berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya ibuku telah meninggal dan ia masih menyisakan puasa ramadhan, apakah aku meng-qadhai untuknya?” Nabi SAW berkata, “Ya” kemudian beliau bersabda “Sesungguhnya hutang kepada Allah itu lebih berhak untuk ditunaikan.”

Dengan mengetahui amalan yang dapat kita lakukan untuk menolong mayit, setidaknya kita telah meringankan sedikitnya siksa yang akan mereka terima. Apa salahnya kita sesama muslim saling membantu satu sama lain dalam keadaan susah. Bagaimana pun juga mereka tetap saudara kita, karena kita semua satu keturunan yakni dari Nabi Adam dan Hawa.

Sumber: Misteri Malam Pertama di Alam Kubur
               Islampos
              Redaksi ISBAD

Al-Quran Tak Lekang dimakan Zaman

Main1

Al-Qur'an adalah salah satu Kitab Allah, yang diturunkan dalam bahasa Arab kepada Nabi Muhammad SAW, selama dua puluh tiga tahun. Al-Quran yang diterima Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril, disampaikan dengan cara mendiktekan kepada para pengikutnya, dan mereka menuliskannya pada bahan yang tersedia.

Tak lama setelah wafatnya Nabi Muhammad, khalifah pertama, Abu Bakar As-Siddiq, memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan naskah dan membuat satu salinan Quran. Ia melakukannya dengan bantuan ratusan Sahabat Nabi yang telah hafal Al-Quran, sehingga menjamin bahwa tidak ada yang ditambahkan atau dihilangkan, dan bahwa urutan ayat-ayat itu sesuai dengan petunjuk Nabi.

Kemudian, khalifah ketiga, Utsman bin Affan, kembali meminta Zayd untuk mengawasi proses penyalinan Al-Quran tersebut. Beberapa salinan standar dibuat dan dikirim ke semua wilayah Muslim, dengan perintah bahwa semua naskah lainnya dibakar. Hal ini untuk memastikan bahwa tidak akan ada bacaan Al-Quran yang lainnya.

Dengan demikian, Al-Quran hari ini tetap persis seperti yang terungkap lebih dari 14 abad yang lalu dan berisi kata-kata yang tepat dari Allah. Ribuan Muslim hafal itu setiap generasi sehingga tidak pernah dilupakan.

Di perpustakaan Muslim dunia terdapat salinan Al-Quran dari abad pertama, yaitu tepat setelah wahyu pertama diturunkan,lalu dibandingkan dengan salinan yang dicetak modern, ini menunjukkan bahwa Quran tidak berubah selama berabad-abad.

Terjemahan dari Al-Quran telah dibuat kedalam banyak bahasa, tetapi tidak ada terjemahan yang dapat menangkap arti penuh dari Quran. Oleh karena itu, untuk benar memahami ajaran Islam, salah satunya harus mengacu dan memahami teks Arab dari Al-Quran

Sumber: http://www.onislam.net
               Redaksi ISBAD

Proses Terjadinya Rotasi Bumi Menurut Al-Qur'an


indahnya-pemandangan-bumi-ketika-bernafas


Ketika Anda duduk santai di suatu tempat, Anda dapat merasakan bahwa sebenarnya anda sedang bergerak berputar. Tetapi, tentunya Anda tidak merasakan bukan? Sebabnya, kita tidak dapat mengetahui dan tak dapat merasakan bahwa tempat duduk dan keadaan di sekeliling kita sedang dalam keadaan bergerak. Kita ambil perumpamaan, bumi ini adalah sebuah kamar. Kita duduk di kamar itu dengan jendela dan pintu ditutup rapat, sehingga mata kita tak bisa memandang ke luar kamar.

Kemudian kamar bergerak berputar , segala apa yang ada di kamar dalam posisi tetap tidak berubah. Jika demikian keadaanya, kita tidak dapat merasakan bahwa kamar itu dalam keadaan berputar. Tetapi kamar tersebut dapat kita rasakan perputarannya bila jendela dan pitu kita buka. Kemudian kita bedakan gerakan kamar itu dengan benda-benda di luar kamar yang tidak bergerak, seperti tiang-tiang atau pepohonan. Dengan demikian kelas, bahwa kita tidak bisa merasakan dan tidak mengetahui pergerakan atau perputaran. Kecuali jika kita bisa membedakan sesuatu yang tidak bergerak.

Siapa kiranya di antara kita yang ampu membedakan pergerakan berputarnya bumi dengan suatu benda yang tidak bergerak, agar kita mengetahui bahwa bumi ini sedang dalam keadaan bergerak. Tentu tidak ada seorang pun yang mampu, tetapi Allah Maha Mengetahui. Dan Allah telah memberitahukan dengan Firman-Nya: “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan” (QS. An-Naml [27]: 88).

Kata “sangka” di dalam ayat tersebut, artinya “kira”. Atau “menyangka” sama saja dengan mengira. Kita mengira bahwa gunung-gunung dalam keadaan tetap, padahal gunung-gunung yang tampak itu bergerak. Gunung-gunung yang tampak di depan mata kita, tampaknya tidak bergerak. Padahal, kenyataan yang sebenarnya tidaklah demikian. Dengan ayat tersebut Allah telah memberitahukan kepada kita bahwa gunung-gunung yang berdiri kokoh, ibarat paku yang tertancap ke bumi, dan tampak tak bergerak.

Dengan ilmu yang Allah berikan kepada manusia, maka dapat diketahui bahwa ternyata gunung-gunung itu bergerak ibarat awan yang ditiup angin. Tetapi kita memang tidak merasa dan tidak mengerti. Yang menjadi pertanyaan, mengapa kita tidak mengetahuinya? Dan tidak merasakan? Sebab, kita bersama gunung dan seluruh tempat lainnya ikut pula bergerak.
Bumi ini bergerak cepat dan berputar kencang sekali. Itulah ciptaan Allah yang sangat teliti. Dan Allah telah memberi ilmu pengetahuan kepada manusia begitu tinggi. Jika ada orang yang mengatakan hal itu hanya akan terjadi di hari kiamat, ketahuilah bahwa setelah hari kiamat nanti, di alam sana tidaklah sama dengan di bumi sekarang ini.

Ada tambahan soal, “apakah di langit nanti berlaku perhitungan terhadap manusia?” Jawabnya tentu. Di akhirat nanti akan berlaku perhitungan terhadap manusia. Dan perlu kita ketahui, kehidupan di akhirat nanti serba jelas, dan semua akan tampak jelas. Hakekat surga dan neraka akan tampak secara jelas. Begitu pula mengenai pahala dan dosa yang pernah kita perbuat di dunia.

Kita melihat gunung-gunung, tampaknya tetap tak bergerak seperti benda mati. Pendapat itu sekilas tampak benar, karena kita melihat gunung, gunung itu tetap tak bergerak. Sama dengan benda mati yang hanya dilewati awan. Ungkapan Al-Quran memang luar biasa. Begitu kokoh tak tergoyahkan. Bahasa yang digunakan di dalam Al-Quran dari masa ke masa selalu memancarkan cahaya yang terang benderang. Cahaya ilmu dan pengetahuan membuat kita tidak mudah menyimpang tetapi manusia tetap tidak akan merasakan bahwa ia sedang bergerak begitu cepat. Sungguh besar firman Allah. Sesungguhnya Al-Quran merupakan sumber ilmu dan pengetahuan.


Sumber: Mukjizat Al-Quran/Muhammad Mutawally AS/Risalah/Mei 1984
                Redaksi ISBAD

Jumat, 21 Agustus 2015

Pengakuan Kemerdekaan dari Rakyat Palestina

Warga Gaza ucapkan selamat merdeka

Sejarah mencatat bahwa jika ditarik ulur akan kita temukan fakta bahwa Indonesia memiliki hutang budi kepada rakyat Palestina, karena bangsa Palestina ikut dan termasuk negara yang menjadi pelopor pengakuan kemerdekaan Republik Indonesia serta menjadi kunci utama pengakuan RI oleh dunia, dilanjutkan oleh pengakuan datang dari negara Mesir pada tanggal 10 November 1947 di kantor pusat Ikhwanul Muslimin (IM) di Kairo.

Dengan menghargai makna sejarah, sangat lumrah jika tidak sedikit dari rakyat Indonesia khususnya Kaum Muslimin di Indonesia seakan pasang badan dan mengutuk keras agresi Zionis Israel atas Gaza, begitu juga tanah Palestina yang masih di Jajah oleh Zionis Israel karena ini sangat bertentangan dengan konsep UUD 1945, bahwa penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, seharusnya penjajahan atas tanah Palestina pun harus diperjuangkan, itupun jika UUD 1945 masih dianggap aturan oleh rakyat Indonesia khususnya pemerintah RI.

Sangat tidak adil jika pada tanggal 17 Agustus 2015 kita berteriak “MERDEKA” ketika pemerintah Republik Indonesia memberikan peluang dan dengan sangat leluasa antek kolonialisme berjiwa penjajah yaitu Israel, dengan bangganya pemerintah Indonesia memberikan Visa atlet asal negara kolonialisme serta dengan leluasanya para rabi-Yahudi garis keras-datang ke Tolikara Papua, ini tidak lebih seperti ungkapan air susu dibalas dengan air tuba. Semoga ini persepsi prematur dari pribadi saya.

Indonesia masih berhutang budi pada Rakyat Palestina, sejatinya rakyat Palestina tidak akan meminta atau berharap balas budi akan tetapi sangat manusiawi jika Indonesia ikut mendukung dan memperjuangkan kemerdekaan Palestina!

Tidak hanya catatan sejarah akan tetapi ini kenyataan bahwa tidak hanya dukungan pengakuan dan pelopor kemerdekaan Republik Indonesia hingga diakui dunia, akan tetapi hingga kini warga Palestina selalu dan setia mendoakan rakyat Indonesia khususnya pada HUT RI yang ke 70 tahun 2015.

Oleh: Abdillah Onim, WNI Tinggal di Gaza