" IKATAN SILATURAHMI BAHAGIA DUA, KREO SELATAN "

Minggu, 18 Oktober 2015

4 Alasan Mengapa Harus Membaca Sirah Nabi


Banyak orang –di kalangan umat Islam- tertarik membaca biografi orang-orang terkenal dan sukses. Mereka membacanya dengan tujuan meneladani dan berusaha meniru mereka agar bisa menggapai kesuksesan serupa. Namun sayangnya, ketertarikan serupa tidak kita dapatkan pada buku-buku biografi Nabi Muhammad ﷺ. Sehingga sebagian besar umat ini, tidak mengenal seseorang yang mereka sebut dalam syahadat mereka. Mereka tidak mengenal orang nomor satu dalam agama yang mulia ini.

Mengapa Anda harus membaca sirah atau biografi Nabi ﷺ? Setidaknya ada 4 alasan utama mengapa kita harus membaca sirah Nabi Muhammad ﷺ. Berikut keempat alasan tersebut:

Pertama
Sirah Nabi ﷺ adalah sumber kedua dari syariat Islam.
Perlu kita tahu, sumber kedua dalam syariat Islam dapat kita pahami dengan baik ketika kita telah mempelajari sirah Nabi. Ada beberapa hal yang menjadi sumber syariat Islam. Yang pertama adalah Alquran. Dan yang kedua adalah sunnah Nabi ﷺ. Sunnah sendiri berarti segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi ﷺ.

Maksud dari ketetapan di sini adalah perbuatan sahabat yang dipuji atau didiamkan dan tidak ditegur Nabi ﷺ karena beliau menyepakatinya. Tentu hal ini sangat erat kaitannya dengan kajian sirah Nabi. Sehingga, sumber kedua hukum Islam tidak akan dipahami secara utuh kecuali dengan mempelajari sirah Nabi ﷺ.
Setelah mengetahui tingginya kedudukan sunnah Nabi ﷺ dalam syariat Islam, dari sini pula kita menyadari posisi kajian sirah Nabi ﷺ sebagai jalan untuk memahami sunnah. Allah ﷻ berfirman,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Alquran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS:An-Nahl | Ayat: 44).

Tanpa sirah dan tanpa sunnah, kita tidak akan mampu memahami Alquran.
Mempelajari sirah bukanlah semata-mata bacaan ringan atau hiburan, tapi mempelajari sirah adalah mengkaji agama. Karena ia menjadi penunjang memahami sumber pokok dari syariat ini. Dengan mempelajari sirah Nabi ﷺ dan memahaminya dengan baik kita dapat mempraktikkan ubudiyah kepada Allah dengan cara benar.

Namun sayang, sebagian umat Islam ada yang meragukan periwayatan sunnah dan sirah Nabi ﷺ. Mereka mencukupkan diri dengan Alquran saja. Nabi ﷺ telah memperingatkan kita akan kelompk ini. Sebagaimana sabda beliau ﷺ:

عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَلا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ، أَلا إِنِّي أُوتِيتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ، أَلا يُوشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِهِ، يَقُولُ: عَلَيْكُمْ بِالْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلالٍ فَأَحِلُّوهُ، وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ، أَلا لا يَحِلُّ لَكُمْ لَحْمُ الْحِمَارِ الأَهْلِيِّ وَلا كُلِّ ذِي نَابٍ مِنَ السَّبُعِ ”
Dari al-Miqdaam bin Ma’dii Karib, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya telah diturunkan kepadaku al-Kitab dan yang semisalnya (as-Sunnah) bersamanya. Ketahuilah, sesungguhnya telah diturunkan kepadaku Alquran dan yang semisalnya (As-Sunnah) bersamanya. Ketahuilah, dikhawatirkan akan ada seseorang yang duduk kenyang di atas dipannya seraya berkata: ‘Wajib bagi kalian berpegang pada Alquran ini. Apa saja yang kalian dapati di dalamnya dari perkara halal, maka halalkanlah, dan apa aja yang kalian dapati di dalamnya dari perkara haram, maka haramkanlah’. Ketahuilah, tidak dihalalkan bagi kalian daging keledai jinak dan binatang buas yang mempunyai taring.” (HR. Abu Daawud no. 4604 dan Ibnu Hibbaan no. 12).

Alquran sendiri telah membantah mereka yang hanya menjadikan Alquran sebagai satu-satunya sumber syariat. Allah ﷻ berfirman,

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 80).

فَلاَ وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 65).

Dan firman-Nya juga,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS:Al-Hasyr | Ayat: 7).

Para sahabat Nabi ﷺ tidak membedakan Alquran dan sunnah. Terkadang mereka mengkaji Alquran dan terkadang pula mereka belajar al-hadits Nabi ﷺ.

Kedua 
Mengenal sosok Nabi Muhammad ﷺ.
Rasulullah ﷺ adalah manusia terbaik. Beliau juga penutup para nabi dan rasul serta yang terbaik di antara mereka. Tokoh yang satu ini adalah tokoh terbesar dalam sejarah manusia, dari manusia pertama, Adam, hingga kelak terjadinya kiamat.

Tokoh satu ini sangat layak untuk dipelajari perjalanan hidupnya. Banyak alasan mengapa perjalanan hidup (sirah) beliau layak dipelajari. Alasan yang paling utama tentu saja, karena beliau seorang rasul, utusan Rab penguasa alam semesta. Jika Allah menghendaki, tentu Dia mampu berbicara kepada para hamba-Nya secara langsung. Namun Allah tidak menghendaki yang demikian, ia mengangkat seorang utusan yang menjadi perantara Dia dan hamba-hamba-Nya. Allah ﷻ memilih beliau ﷺ dari seluruh hamba-hamba-Nya.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الهَوَى * إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS:An-Najm | Ayat: 4).

Oleh karena itu, wajib bagi kita menerima hadits-hadits Nabi ﷺ. Konsekuensinya pula wajib bagi kita mempelajari sirahnya. Karena sirah adalah praktik nyata perintah Allah melalui diri Rasulullah ﷺ.

Ketiga 
Menimbulkan Kecintaan Kepada Nabi ﷺ.
Seseorang wajib mengupayakan bagaimana agar ia bisa mencintai Nabi ﷺ. Karena mencintai beliau ﷺ adalah sebuah kewajiban. Cinta kepada beliau harus di atas cinta kepada seluruh makhluk lainnya. Nabi ﷺ bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Salah seorang di antara kalian tidak beriman (dengan sempurna) sampai aku lebih dicintainya dari anak dan kedua orang tuanya serta seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kita pun telah mendengar dialog Nabi ﷺ dengan Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu,

قال عمر بن الخطاب: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، إِلاَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ : “لاَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ”. فَقَالَ عُمَرُ: وَاللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ : “الآنَ يَا عُمَر
Umar berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri”. Maka Nabi ﷺ bersabda, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri”. Kemudian Umar berkata kepada beliau, “Sesungguhnya sejak saat ini, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri”. Maka Nabi ﷺ bersabda, “Sekarang (baru benar) wahai ‘Umar”. (HR. al-Bukhari no. 6632).

Ada tiga hal yang membuat seseorang cinta kepada orang lainnya:
(1) Secara fisik orang tersebut menarik,
(2) orang tersebut memiliki perangai yang baik. Karena setiap orang akan memuji dan suka dengan sifat-sifat terpuji, dan
(3) orang tersebut berjasa terhadap dirinya. Ketika seseorang berjasa, maka ada penghormatan, kecintaan, dan keinginan untuk membahagiakannya pula.

Nabi ﷺ adalah seorang yang menarik secara fisik. Banyak riwayat yang menerangkan tentang ketampanan beliau. Beliau ﷺ seorang yang terbaik akhlaknya. Allah ﷻ memujinya sebagai pemilik akhlak mulia. Dan beliau ﷺ juga orang yang sangat berjasa terhadap umatnya bahkan kepada seluruh manusia, jin, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Semua itu tidak akan dapat kita ketahui kecuali dengan membaca sirah perjalanan hidup beliau ﷺ.

Dengan mempelajari sirah, seseorang akan semakin mengenal Nabi ﷺ. Semakin mengenal beliau, maka semakin bertambah kecintaan kepadanya.

Keempat 
kita akan paham apa yang dimaksud dengan sikap hikmah.
Hikmah adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Hikmah tidaklah selalu berada di tengah-tengah. terkadang memihak pun disebut hikmah. Orang sering menyebut sikap hikmah ini dengan bijaksana. Buah dari sikap hikmah dan bijak Rasulullah ﷺ adalah:
  • Menaklukkan hati seseorang.
Nabi ﷺ tidak hanya mampu menaklukkan hati para sahabatnya saja, sehingga para sahabat jatuh hati padanya. Namun beliau juga mampu menaklukkan hati musuh-musuhnya.
  • Mengambil keputusan sesuai dengan situasi dan kondisi
Ini merupakan salah satu buah terpenting dari mempelajari sirah. Pada saat beliau diutus, setidaknya ada 360 berhala di sekitar Ka’bah. Beliau ﷺ tidak langsung bergerak menghancurkan berhala walaupun menentang kesyirikan adalah perintah pertama. Sampai tiba masanya. Beliau memiliki kekuatan. Tidak satu pun berhala tersisa di Jazirah Arab.

Beliau tinggal di Mekah selama 13 tahun pasca menerima wahyu. Kedai-kedai khamr dan kemah-kemah perzinahan menyebar, namun tidak pernah beliau mengadakan penggerebekan sekalipun. Kemudian di masa berikutnya, beliau menegakkan hokum had, walaupun terhadap wanita bangsawan Ghamidiyah.

Suatu waktu beliau mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang Yahudi. Di waktu lainnya, beliau memerangi mereka karena berkhianat. Mengapa beliau tidak memerangi Yahudi di waktu damai? Dan mengapa tidak mengadakan perdamaian ketika terjadi sengketa? Semua karena sikap hikmah. Hikmah itu bisa tegas dan bisa lembut. Hikmah itu bisa dalam bentuk perdamaian bisa pula mengadakan peperangan. Tidak seperti yang dipahami orang-orang saat ini. Satu kelompok menginginkan damaiiii… terus, walaupun mengorbankan syariat. Satu pihak lagi menginginkan perangggg… terus, walaupun merugikan dakwah.

Ada masa beliau memerintahkan para sahabatnya bersabar. Ketika keluarga Yasir disiksa oleh Quraisy, beliau perintahkan sabar dan menjanjikan surga atas kesabaran tersebut. Beliau tidak angkat senjata membuat perhitungan kepada Quraisy. Di situasi lain, beliau menyiapkan pasukan untuk menghadapi Yahudi bani Qainuqa’ lantaran membunuh seorang muslim dan melecehkan kehormatan muslimah. Nabi juga memerangi negara adidaya Romawi karena membunuh dua orang muslim. Namun zaman ini dengan zaman Mekah adalah suatu yang berbeda.

Hikmah, tepat dalam menerapkan syariat, berkata dan berbuat seperti ini tidak akan kita pahami kecuali dengan mempelajari sirah.
  • Bertahap dalam penerapan amar makruf nahi mungkar dan pendidikan.
Nabi ﷺ menempuh metode bertahap dalam amar makruf nahi mungkar dan pendidikan. Seperti dalam penerapan hokum khamr, riba, dan jihad.
  • Pertengah dan Moderat
Di antara nikmat Allah kepada umat ini adalah ia menjadikan umat ini umat pertengahan. Sebagaimana firman Allah,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 143).

Kita tidak boleh meremehkan dan juga tidak boleh kaku dan berlebihan. Contohnya dalam permasalahan pernikahan. Nabi ﷺ memerintahkan umatnya untuk menikah. Namun pernikahan tidak boleh menghalangi seseorang dari dakwah atau berjihad di jalan Allah, atau berinfak.
Sikap pertengahan dan moderat ini tidak akan tepat praktiknya jika kita tidak mengkaji sirah Nabi ﷺ. Dengan meneladani sikap pertengahan ini seseorang tidak akan menyia-nyiakan hak Allah ﷻ dan juga hak sesama hamba.

Sumber :
www.KisahMuslim.com

Redaksi ISBA

Tentara Terakhir Yang Menjadi Benteng Masjid al-Aqsha

Selama empat abad, Palestina berada di bawah kekuasaan Turki Utsmani (Ottoman). Sampai akhirnya Inggris mengambil kendali atas wilayah tersebut. Ottoman pun telah melakukan segala upaya, berjuang keras mempertahankan Jerusalem dari serangan Inggris, namun hal itu tidak membuahkan hasil yang diinginkan. Hingga diperkirakan 25.000 tentara mereka tewas. Akhirnya, mereka tidak punya pilihan selain menyerah. Gubernur Ottoman menulis dekrit berikut:
Photo credit: Phil McKenzie
Photo credit: Phil McKenzie
"Due to the severity of the siege of the city and the suffering that this peaceful country has endured from your heavy guns; and for fear that these deadly bombs will hit the holy places, we are forced to hand over to you the city.”
Signed Izzat the Mutasarrif of Jerusalem

Karena gencarnya pengepungan dan penderitaan yang dipikul negeri ini disebabkan senjata berat Anda; dan kekhawatiran akan bom-bom mematikan yang bisa meluluh-lantakkan tempat-tempat suci, kami terpaksa menyerahkan kota ini kepada Anda.
Yang menandatangani Izzat yang Mutasarrif Yerusalem.
Pada 11 Desember 1917, dengan berjalan kaki, Jenderal Inggris Edmund Allenby memasuki Kota Jerusalem. Kota suci itu akan berada di bawah mandat Inggris dan setahun kemudian akan jatuh di bawah pendudukan Israel. Sebuah negara Yahudi yang baru saja terbentuk.
Ottoman Army 3


Berikut adalah beberapa foto dari tentara Ottoman di Masjid Al Aqsa sebelum Inggris mengambil kendali atas kota suci tersebut:

Ottoman Army 4

Ottoman Army 1

Ottoman Army 5


Foto di bawah ini menjelaskan kepada kita mana yang dimaksud dengan Masjid al-Aqsha:

Ottoman Army 6



Sumber:
http://ilmfeed.com/the-last-muslim-army-to-defend-masjid-al-aqsa/
http://kisahmuslim.com
Redaksi ISBAD

Perdebatan Matahari dan Angin

Matahari dan Angin 


Suatu siang terjadilah sebuah perdebatan antara dua elemen kehidupan: antara matahari dan angin.


Mereka tengah berdebat tentang siapa di antara mereka yang paling kuat pengaruhnya dalam kehidupan.
Lalu pelangi datang dengan bermaksud melerai perdebatan antara keduanya itu dan berusaha memberikan jalan keluar.

“Baik, di bawah sana ada seorang musafir yang sedang memancing. Tantangannya, siapa di antara kalian yang paling cepat membuat musafir itu melepas bajunya. Bagaimana?”
Keduanya sepakat lalu melakukan suit untuk menentukan siapa yang mendapatkan giliran pertama.
Angin memenangkannya, lalu ia melakukan persiapan untuk memulai aksinya.
Anginpun mulai beraksi. Ia meniupkan dirinya ke arah musafir tersebut. Namun, semakin ia bertiup kencang musafir itu malah semakin merapatkan pakaiannya. Dan anginpun gagal.

Selanjutnya giliran matahari yang akan mencoba tantangan dari pelangi.
Perlahan matahari mulai meningkatkan intensitasnya. Sang musafir pun mulai mengipas-ngipaskan tangannya.
Tak lama setelah matahari menambah lagi intensitas panasnya, maka sang musafir benar-benar merasa kepanasan dan akhirnya melepas bajunya lalu berendam di sungai tempat ia memancing itu.
Matahari pun tersenyum dan ia memenangkan perdebatan itu.
Sahabat yang budiman, dari cerita tersebut kita diajari tentang bagaimana memberikan pengaruh terhadap orang lain.

Musafir tersebut kita ibaratkan sebagai murid atau bawahan dalam pekerjaan. Seringkali kita menyaksikan guru ataupun seorang atasan, dengan kekuasaannya, berusaha ingin mengubah sikap dan kepribadian bawahannya dengan cara-cara yang keras, dengan paksaan, bentakan, bahkan cacian. Tentu itu takkan berhasil. Persis seperti yang dilakukan angin.

Namun, jika untuk perubahan itu dilakukan dengan cara lembut, perlahan, sopan, dengan kritikan yang membangkitkan motivasi, mungkin akan jauh lebih indah hasilnya.
Perubahan itu sulit, yang membuatnya indah adalah berkasih sayang. Maka berkasih sayanglah.

Sumber : Life Is Choice/Karya: Andrie Wongso/Penerbit: MQ Publishing
              Redaksi ISBAD

Selasa, 13 Oktober 2015

Mengenal Apa itu Bulan Muharram

bulan-muharram



Muharram adalah bulan pertama dalam Sistem Takwim Hijrah (Hijriah). Pada asasnya, Muharram membawa maksud ‘diharamkan’ atau ‘dipantang’, yaitu bulan di mana Allah SWT melarang melakukan peperangan atau pertumpahan darah. Begitulah kebiasaan mereka tempo dulu mengkhususkan bulan-bulan peperangan dan bulan-bulan gencatan senjata. Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir terdapat keterangan berikut,

Dinamakan bulan Muharram karena bulan tersebut memiliki banyak keutamaan dan kemuliaan, bahkan bulan ini memiliki keistimewaan serta kemuliaan yang sangat amat sekali dikarenakan orang arab tempo dulu menyebutnya sebagai bulan yang mulia (haram), tahun berikutnya menyebut bulan biasa (halal).

Orang arab jaman dulu meyakini bahwa bulan Muharram adalah bulan suci sehingga tidak layak menodai bulan tersebut dengan peperangan, sedangkan pada bulan lain misalnya shafar, diperbolehkan melakukan peperangan. Nama shafar sendiri memiliki arti sepi atau sunyi dikarenakan tradisi orang arab yang pada keluar untuk berperang atau untuk bepergian pada bulan tersebut.
Dinamakan bulan shafar karena rumah-rumah mereka sepi, sedangkan para penghuninya keluar untuk berperang dan bepergian.

Maka, sesuai dengan penamaannya bulan Muharaam adalah bulan yang di muliakan dan bulan dimana di larang melakukan peperangan. Demikianlah Allah swt. telah menentukan empat bulan yang dimuliakan, tiga di antaranya berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram, sedangkan yang terakhir adalah Rajab terletak antara bulan Jumadil Ula dan Sya’ban.

Sumber: -empatlimaempat.wordpress.com -www.nu.or.id

Nabi Ibrahim Selamat dari Pembakaran di Bulan Muharram

api kayu bakar


Muharram adalah bulan pertama dalam tahun Islam (Hijriah). Sebelum Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam berhijrah dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah), penanggalan bulan dibuat mengikuti tahun Masehi.

Salah satu peristiwa penting di bulan Muharam yaitu jatuh pada tanggal 10 Muharram. Menurut beberapa hal yang dicatat oleh sejarawan Islam pada tanggal tersebut terjadi berbagai peristiwa bersejarah bagi banyak Nabi dari mulai nabi Adam, Idris, Nuh, Yusuf, Yakub, Ayub, Yunus, Musa, Daud, Sulaiman, sampai nabi Isa.

Selain peristiwa penting yang dialami oleh nabi-nabi di atas, pada tanggal 10 Muharram juga dikenang persitiwa nabi Ibrahim yang diselamatkan Allah SWT keluar dari pembakaran yang dilakukan oleh raja Namrud.

Peristiwa itu berawal dari perusakan berhala-berhala yang disembah oleh kaum dan raja Namrud kala itu oleh nabi Ibrahim. Semua itu karena nabi Ibrahim geram dengan tindakan syirik yang dilakukan mereka, akhirnya Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala yang disembah mereka, dan hanya meninggalkan satu berhala terbesar dengan kapak yang digunakan nabi Ibrahim diletakan di leher berhala besar tersebut.

Alhasil semua itu membuat raja Namrud marah dan langsung menuduh nabi Ibrahim sebagai pelakunya. Tidak hanya sampai disitu saja, raja Namrud memerintahkan rakyatnya untuk membawa kayu bakar sebagai hukuman kepada nabi Ibrahim untuk dibakar hidup-hidup.

Namun, berkat pertolongan Allah SWT, nabi Ibrahim diselamatkan oleh Allah, sehingga ia tidak merasakan panas sedikitpun saat ia berada di dalam api, sebaliknya ia merasa dingin.

Hal ini bahkan direkam Allah SWT dalam firman-Nya:

“Mereka berkata: ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak’. Kami berfirman: ‘Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim’. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi,” (QS. Al Anbiya [21] : 68-70).

  Waallahu’alam

Senin, 14 September 2015

Ibnu Qayyim, Kamus Segala Pengetahuan

IBNU QAYYIM
Nama sebenarnya adalah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin Huraiz az-Zar’i, kemudian ad-Dimasyqi. Dikenal dengan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah nisbat kepada sebuah madrasah yang dibentuk oleh Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf bin Abdil Rahman bin Ali al-Jauzi yang wafat pada tahun 656 H, sebab ayah Ibnu Qayyim adalah tonggak bagi madrasah itu.

Ibnu Qayyim dilahirkan di tengah keluarga berilmu dan terhormat pada tanggal 7 Shaffar 691 H. Di kampung Zara’ dari perkampungan Hauran, sebelah tenggara Dimasyq (Damaskus) sejauh 55 mil.

Berkat pendidikan intensif yang diberikan orang tuanya, Ibnu Qayyim pun tumbuh menjadi seorang yang dalam dan luas pengetahuan serta wawasannya. Terlebih ketika itu, bidang keilmuan sedang mengalami masa jaya dan para ulama pun masih hidup.

Dari ayahnya, Ibnu Qayyim belajar ilmu faraidl karena sang ayah memang sangat menonjol dalam ilmu itu. Selain itu, dia belajar bahasa Arab dari Ibnu Abi al-Fath al-Baththiy dengan membaca kitab-kitab Al-Mulakhkhas li Abil Balqa’, kitab Al-Jurjaniyah, juga sebagian besar kitab Al-kafiyah was Syafiyah. Kepada Syaikh Majduddin at-Tunisi dia belajar satu bagian dari kitab Al-Muqarrib li Ibni Ushfur.

Cakupan bidang keilmuannya demikian luas. Misalnya saja dia pernah belajar ilmu Ushul dari Syaikh Shafiyuddin al-Hindi, ilmu fikih dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Ismail bin Muhammad al-Harraniy. Dia pun terkenal dalam pengetahuannya tentang mazhab-mazhab Salaf.
Hingga akhirnya dia bermulazamah secara total (berguru secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah rahimahullah sesudah kembalinya Ibnu Taimiyah dari Mesir tahun 712 H hingga wafatnya tahun 728 H. Ketika itu, Ibnu Qayyim sedang pada awal masa mudanya.

Oleh karenanya dia berkesempatan mereguk sumber ilmunya dari mata air yang luas. Pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah yang penuh kematangan dia cerna benar-benar. Ibnu Qayyim pun amat mencintainya, sampai-sampai dia mengambil kebanyakan ijtihad-ijtihadnya dan memberikan pembelaan atasnya. Ibnu Qayyim juga menyebarluaskan ilmu Ibnu Taimiyah dengan cara menyusun karya-karyanya yang bagus dan dapat diterima.

Mereka berdua seakan tak terpisahkan. Keduanya pernah dipenjara, dihina dan diarak berkeliling bersama sambil didera dengan cambuk di atas seekor unta. Setelah Ibnu Taimiyah wafat, Ibnu Qayyim pun dilepaskan dari penjara.

Banyak faedah besar yang dia petik selama berguru kepada tokoh kharismatik itu, diantaranya yang penting ialah berdakwah mengajak orang supaya kembali kepada kitab al-Qur’an dan sunah Rasulullah, berpegang kepada keduanya, memahami keduanya sesuai dengan apa yang telah difahami oleh as-Salafus Shalih.

Ibnu Qayyim telah berjuang untuk mencari ilmu serta bermulazamah bersama para ulama besar supaya dapat menyerap ilmu mereka dan supaya bisa menguasai berbagai bidang ilmu Islam.
Penguasaannya terhadap ilmu tafsir tiada bandingnya. Pemahamannya terhadap ushuluddin mencapai puncaknya serta pengetahuannya mengenai hadis, makna hadis, pemahaman serta istinbath-istinbath rumitnya, sulit ditandingi.

Begitu pula, pengetahuannya di bidang ilmu suluk dan ilmu kalam-nya Ahli tasawuf, isyarat-isyarat mereka serta detail-detail mereka. Ibnu Qayyim memang amat menguasai terhadap berbagai bidang ilmu ini.

Semua itu menunjukkan bahwa tokoh ini amat teguh pada prinsip, yakni bahwa “Baiknya perkara kaum Muslimin tidak akan pernah terwujud jika tidak kembali kepada madzhab as-Salafus Shalih yang telah mereguk ushuluddin dan syariah dari sumbernya yang jernih yaitu Kitabullah Al-Aziz serta sunah Rasulullah.”

Dia pun senantiasa berpegang pada ijtihad serta menjauhi taqlid. Diambilnya istinbath hukum berdasarkan petunjuk al-Qur’an, sunnah nabawiyah syarifah, fatwa-fatwa shahih para sahabat serta apa-apa yang disepakati oleh ahlu ats tsiqah (ulama terpercaya) dan para imam fikih.

Waktu yang ada benar-benar telah dicurahkannya untuk mengajar, memberi fatwa, berdakwah dan berdialog. Karenanya, banyak tokoh-tokoh ternama adalah para muridnya. Mereka merupakan ulama terbaik yang telah terbukti keutamaannya, di antaranya: anak beliau sendiri bernama Syarafuddin Abdullah, anaknya yang lain bernama Ibrahim, kemudian Ibnu Katsir ad-Dimasyqiy penyusun kitab Al-Bidayah wan Nihayah, Al-Imam Al-Hafizh Abdurrahman bin Rajab Al-Hambali Al-Baghdadi penyusun kitab Thabaqat al-Hanabilah, dan masih banyak lagi.

Ibnu Qayyim juga merupakan seorang peneliti ulung. Dia mengambil semua ilmu dan segala tsaqafah yang sedang jaya-jayanya pada masa itu di negeri Syam dan Mesir.

Kemudian disusunnya kitab-kitab fikih, kitab ushul, serta kitab-kitab sirah dan tarikh. Jumlah tulisannya sangat banyak, dan keseluruhan kitab-kitabnya itu memiliki bobot ilmiah yang tinggi. Oleh karenanya Ibnu Qayyim pantas disebut kamus segala pengetahuan ilmiah yang agung.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah, wafat pada malam Kamis, tanggal 13 Rajab tahun 751 Hijriyah dalam usia 60 tahun. Ia dishalatkan di Mesjid Jami’ Al-Umawi dan setelah itu di Masjid Jami’ Jarrah. ribuan pelayat berdesakan mengantar kepergian Ibnu Qayyim di peristirahatannya yang terakhir. Ibnu Qayyim dikuburkan di Pekuburan Babush Shagir.

Sumber : islampos
                Redaksi ISBAD

Minggu, 13 September 2015

Hadist soal Meninggal karena Tertimpa Bangunan

mekah


Rasulalullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللهِ : الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ ، وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ ، وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ ، وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ

“Mati syahid selain yang terbunuh di jalan Allah itu ada tujuh: mati karena penyakit tha’un, syahid; mati karena tenggelam, syahid; mati karena sakit tulang rusuk, syahid; mati karena sakit di dalam perut, syahid; mati karena terbakar, syahid; mati karena tertimpa bangunan syahid; dan wanita yang mati karena mengandung (atau melahirkan), ia syahid,” (HR. Abu Dawud).

Makna tertimpa bangunan ini termasuk meninggal karena tertimpa alat-alat berat yang digunakan untuk mendirikan bangunan. Semoga jama’ah calon haji yang wafat karena tertimpa crane, Allah Ta’ala karuniai mereka derajat syuhada. Dan bagi kita yang berada di tanah air, baik yang sedang bersiap berangkat untuk menunaikan ibadah haji maupun yang belum, ini merupakan pengingat untuk membaguskan niat, meluruskannya agar setiap perjalanan ibadah kita mendapatkan ridha Allah ‘azza wa Jalla. Jika sekiranya Allah Ta’ala takdirkan kematian kepada kita pada saat itu, maka tidaklah kematian itu datang kecuali sebagai kematian yang terbaik. Sesungguhnya kita semua akan dinilai berdasarkan niat kita.

Sesungguhnya qadha dan qadar merupakan bagian dari iman. Kita harus memeganginya dengan sungguh-sungguh. Tidak datang kematian kecuali telah Allah Ta’ala tuliskan takdir itu.
Ada beberapa hadis lain yang menegaskan kedudukan orang yang mati karena tertimpa bangunan. Tentu saja ada ketentuan tentang siapa yang terhitung mati syahid saat mengalami apa-apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Yang paling pokok, mereka meninggal bukan dalam keadaan bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Dan jama’ah calon haji, semoga tidaklah berada di Masjidil Haram kecuali dalam rangka keta’atan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Insya Allah.
Sekali lagi, ini merupakan pengingat bagi kita untuk senantiasa meluruskan dan membaguskan niat dalam melakukan kegiatan, terlebih saat menunaikan haji atau pun umrah.

Sumber: